Tanah yang harus diperjuangkan

Kemiskinan Filsafat
Karl Marx (1847)
BAB II
METAFISIKA EKONOMI-POLITIK
4. Pemilikan atau Sewa Tanah

Dalam setiap kurun-waktu historis, properti (kekayaan/pemilikan) telah berkembang secara berbeda-beda dan di bawah satu perangkat hubungan-hubungan sosial yang sepenuhnya berbeda-beda. Karenanya untuk mendefinisikan properti burjuis tidak lain dan tidak bukan ialah memberikan sebuah eksposisi mengenai semua hubungan sosial dari produksi borjuis.

Mencoba memberikan sebuah definisi mengenai properti bagaikan suatu hubungan yang bebas, sebuah kategori tersendiri, sebuah ide abstrak dan kekal, tidak lain dan tidak bukan merupakan sebuah ilusi metafisika atau jurisprudensi.

M. Proudhon, sambil seakan-akan berbicara mengenai properti pada umumnya, hanya bersangkutan dengan “hak milik pertanahan, dengan sewa tanah. Asal-usul sewa-tanah, sebagai properti adalah, boleh dikatakan, ekstra-ekonomik: ia terletak pada pertimbangan-pertimbangan psikologis dan moral yang hanya secara sangat jauh berkaitan dengan produksi kekayaan.” (Vol.II, hal. 265.)

Demikianlah, M. Proudhon menyatakan dirinya tidak mampu memahami asal-usul ekonomik dari sewa dan dari properti. Ia mengakui bahwa ketidak-mampuan ini mewajibkannya untuk lari pada peretimbangan-pertimbangan psikologis dan moral, yang, memang, sementara tidak sangat berkaitan dengan produksi kekayaan, masih mempunyai kaitan yang sangat dekat dengan kesempitan/kecupetan pandangan-pandangan historisnya. M. Prpoudhon mengakui bahwa ada sesuatu yang “mistis” dan “misterius” mengenai asal-usul properti. Nah, melihat misteri dalam asal-usul properti – yaitu, membuat sebuah misteri dari hubungan antara produksi itu sendiri dan distribusi alat-alat produksi – tidakkah ini, dengan memakai bahasa M. Proudhon, suatu pengingkaran/penolakan terhadap semua klaim akan ilmu pengetahuan ekonomi?

M. Proudhon “ membatasi dirinya pada mengingat bahwa pada kurun ketujuh dari evolusi ekonomi – kredit– ketika fiksi telah mengakibatkan realitas menghilang, dan aktivitas manusia terancam lenyap-diri dalam ruang hampa, telah menjadi keharusan untuk lebih kencang mengikat manusia pada alam. Nah, sewa adalah harga dari kontrak baru ini.” (Vol. II, hal. 269.)

L’Homme aux quarante ecus[41] sudah lebih dini melihat seorang M. Proudhon masa-depan: “Mr. Pencipta, dengan seizin anda: setiap orang adalah tuan di dunianya sendiri; namun anda tidak akan pernah meyakinkan aku untuk percaya bahwa dunia di mana kita hidup ini adalah terbuat dari kaca.” Dalam dunia anda, di mana kredit adalah suatu cara untuk “kehilangan diri sendiri dalam ruang hampa,” adalah sangat mungkin bahwa properti menjadi keharusan untuk “mengikat manusia pada alam.” Dalam dunia produksi real, di mana hak milik atas tanah selalu mendahului kredit, “ horror vacui” M. Proudhon tidak dapat berada/eksis.

Sekali keberadaan sewa diakui, apapun asal-usulnya, ia menjadi suatu subjek dari negosiasi-negosiasi yang antagonistik secara timbal-balik di antara petani dan pemilik tanah. Apakah hasil akhir negosiasi-negosiasi ini, dengan lain kata, apakah jumlah rata-rata dari sewa itu?

Ini yang dikatakan oleh M. Proudhon:

Teori Ricardo menjawab pertanyaan ini. Pada awalnya masyarakat, ketika manusia, baru bagi bumi, tidak mempunyai apa-apa di hadapannya kecuali hutan-hutan raksasa, ketika bumi luarbiasa luasnya dan industri baru mulai bangkit, sewa mestinya tiada, nihil, nol. Tanah, yang masih belum digarap oleh kerja, adalah suatu obyek kegunaan; ia bukjan suatu nilai tukar, ia adalah bersifat umum, tidak sosial. Sedikit-demi-sedikit, bergandaan keluarga-keluarga dan kemajuan agrikultura menyebabkan harga tanah makin menjadikan dirinya terasa. Kerja tiba untuk memberikan pada tanah itu harganya: dari sini, lahirlah sewa (tanah) itu. Semakin banyak buah dihasilkan sebuah ladang dengan jumlah kerja yang ksama, semakin tinggi ia dihargai; dari situlah kecenderungan para pemilik adalah selalu merebut/mengumpulkan pada dirinya seluruh jumlah buah dari tanah itu, dikurangi upah para petani – yaitu, dikurangi biaya produksi. Demikian properti mengikutilangkah-langkah kerja untuk mengambil darinya semua produk yang melebihi biaya-biaya sesungguhnya. Selagi pemilik menunaikan suatu tugas mistik dan mewakili komunitas terhadap sang kolonus, si petani adalah, dengan dispensasi Takdir, tidak lebih daripada seorang pekerja yang bertanggung jawab, yang mesti bertanggung-jawab pada masyarakat untuk semua yang dituainya di atas upahnya yang absah … Dalam hakekat dan berdasar tujuannya, maka, sewa adalah sebuah alat keadilan distributif, salah satu dari seribu cara yang digunakan koleh jenius ekonomi untukj mencapai persamaan. Adalah suatu penilaian tanahg yang luar-biasa yang dijalankan secara kontradiktori oleh tuan-tuan tanah dan petani, tanpa kemungkinan kolusi apapun, dalam kepentingan yang lebih tinggi, dan yang hasil akhirnya mestilah meratakan pemilikan tanah diantara kaum eksploitan tanah dan kaum industrialis … Ia memerlukan tidak kurang kdaripada magik properti ini untuk menyerobot dari kolonus itu surplus produknya yang ia tidak bisa tidak menganggap sebagai punyanya sendiri dan yang ia pandang dirinya sendiri sebagai satu-satunya penciptanya. Sewa, atau lebih tepatnya properti, telah meruntuhkan egoisme agrikultural dan menciptakan suatu solidaritas yang tiada satupun kekuasaan, tiada pemecahan tanah apapun yang dapat melahirkannya … Efek moral dari properti telah diamankan, dan sekarang yang tersisa untuk dilakukan yalah mendistribusikan sewa itu. [II 270-272]

Seluruh banjir kata-kata ini pertama-tama dapat direduksi menjadi yang seperti ini:

Ricardo mengatakan bahwa ekses/kelebihan harga produk-produk agrikultur di atas ongkos produksinya, termasuk laba dan bunga lazimnya dari modal, menentukan ukuran sewa itu. M. Proudhon melakukan yang lebih dari itu. Ia membuat sang pemilik tanah campur-tangan, seperti sebuah Deux ex machina,[42] dan menyerobot dari kolonus itu semua surplus produksinya di atas ongkos produksi. Ia menjadikan penggunaan intervensi tuan tanah untuk menjelkaskan properti, dari intervensi penerima-sewa untuk menjelaskan sewa. Ia menjawab masalah itu dengan merumuskan masalah yang sama dan menambahkan sebuah suku kata ekstra.[43]

Mari kita catat juga bahwa dalam menentukan sewa dengan perbedaan kesuburan tanahg, M. Proudhon menjulukkan suatu asal-usul baru padanya, karena tanah, sebelum dinilai menurut berbagai derajat kesuburan, “bukanlah,” menurut pandangannya, “suatu nilai tukar, tetapi adalah umum.” Lalu, apakah yang terjadi dengan fiksi mengenai sewa telah lahir “melalui keharusan dikembalikannya manusia pada tanah, manusia yang nyaris kehilangan dirinya sendiri dalam ketidak-terbatasan ruang kosong?”

Marilah kita sekarang membebaskan doktrin Ricardo dari kalimat-kalimat takdir, alegorik dan mistis yang dibungkuskan oleh Proudhon padanya.

Sewa, dalam pengertian Ricardian, adalah kekayaanb berupa tanah dalam keadaan borjuisnya; yaitu, properti feodal yang telah ditundukkan pada kondisi-kondisi produksi borjuis.

Kita telah melihat bahwa, menurut doktrin Ricardian, harga semua obyek pada akhirnya ditentukan oleh ongkos produksi, termasuk laba industrial; dengan kata-kata lain, oleh waktu kerja yang dipekerjakan. Dalam industri manufaktur, harga produk yang diperoleh dengan kerja minimum mengatur harga dari semua barang-dagangan lain dari jenis yang sama, dengan menjaga bahwa alat-alat produksi yang paling murah dan paling produktif dapat digandakan secara tidak terbatas dan bahwa persaingan mau tidak mau melahirkan suatu harga pasar, yaitu harga umum bagi semua produk dari jenis yang sama.

Sebaliknya di dalam industri agrikultural adalah harga produk yang diperoleh dengan jumlah kerja terbesar yang mengatur harga semua produk dari jenis yang sama. Orang tidak dapat, pertama-tama, seperti dalam industri manufaktur semaunya sendiri menggandakan alat-alat produksi yang memiliki derajat produktivitas yang sama, yaitu, bidang-bidang tanah dengan derajat kesuburan yang sama. Lalu, dengan bertambahnya penduduk, tanayh dengan kualitas yang lebih rendah mulai dieksploitasi, atau belanja-belanja modal, yang secara proporsional lebih mahal secara pasti mendapatkan harga seperti sebidang tanah yang eksploitasinya lebih murah. Karena persaingan menyederajatkan harga pasar , produk dari tanah yang lebih baik akan dibayar sama tingginya seperti produk dari tanah yang inferior itu. Adalah kelebihan harga dari produk-produk dari tanah yang lebih baik yang akan dibayar di atas ongkos produksinya yang merupakan sewa itu. Jika seseorang selalu mempunyai persediaan bidang-bidang tanah dari derajat kesuburan yang sama; jika seseorang dapat, seperti dalam industri manufaktur, secara terus-menerus mempunyai sumber mesin-mesin yang semakin murah dan semakin produktif, atau apabila belanja-belanja modal berikutnya menghasilkan sama banyaknya seperti yang sebelumnya, maka harga produk-produk agrikultural akan ditentukan oleh harga barang-barang dagangan yang diproduksi oleh alat-alat produksi yang terbaik, seperti yang kita lihat dengan harga produk-produk manufaktur. Tetapi, sejak dari saat ini sewa akan juga lenyap.

Agar doktrin Ricardian[44] benar secara umum, adalah mendasar sekali bahwa modal mesti bebas diterapkan pada berbagai cabang industri; bahwa suatu persaingan yang berkembang kuat sekali di antara kaum kapitalis telah menghasilkan laba-laba pada suatu tingkat yang sama; bahwa kaum tani itu mesti melebihi seorang kapitalis industrial mengklaim penggunaan modalnya atas tanah yang inferior,[45] suatu laba yang sama seperti yang akan didapatkannya dari modalnya jika itu diterapkan pada jenis manufaktur yang mana saja; bahwa eksploitasi agrikultural mesti ditundukkan pada rezim industri raksasa/besarbesaran; dan akhirnya, bahwa pemilik tanah itu sendiri mesti semata-mata bertujuan pada penghasilan uangnya.

Mungkin terjadi, seperti di Irlandia bahwa sewa masih belum ada, sekalipun menyewakan tanah telah mencapai suatu perkembangan luar biasa di sana. Sewa sebagai bukan saja ekses di atas upah-upah, tetapi juga atas laba industrial, tidak bisa ada jika pendapatan pemilik tanah tidak lebih daripada sekedar suatu pungutan atas upah-upah.

Demikian, jauh daripada mengubah si pengeksploitasi tanah, si petani, menjadi seorang “pekerja sederhana,” dan “menyerobot dari pembumidaya/penggarap itu surplus produknya, yang tidak bisa tidak mesti dianggapnya sebagai punyanya sendiri,” sewa menghadapkan si pemilik tanah, bukan dengan budak, sayaha, pembayar upeti, pekerja upahan, tetapi dengan sang kapitalis industrial.[46]

Sekali terbentuk sebagai sewa tanah, properti tanah (pemilikan tanah) dalam pemilikannya Cuma mempunyai surplus atas ongkos produksi, yang ditentukan tidak hanya oleh upah-upah, tetapi juga oleh laba industrial. Oleh karenanya dari pemilik tanahlah sewa tanah itu menyerobot sebagian dari pendapatannya. Karenanya, telah berlalu suatu jangka waktu yang besar sebelum petani feodal digantikan oleh kapitalis industrial. Di Jerman, misalnya, transformasi ini baru dimulai pada bagian ketiga terakhir dari abad ke XVIII. Hanya di Inggris hubungan antara kapitalis industrial dan pemilik tanah telah berkembang secara sepenuhnya.

Selama Cuma adanya kolonus M. Proudhon, selama itu tidak ada sewa. Saat sewa itu ada, kolonus itu tidak lagi sang petani, melainkan si pekerja, kolonus-nya “petani itu.” Penistaan sang pekerja, yang direduksi pada peranan seorang pekerja sederjhana, seorang pekerja harian, seorang penerima-upah, yang bekerja pada/untuk kapitalis industrial; maka intervensi si kapitalis industrial, yang mengeksploitas tanah seperti pabrik lainnya yang manapun; transformasi dari si pemilik tanah dari seorang raja kecil menjadi seorang lintah-darat/orang yang makan riba vulgar: inilah hubungan-hubungan yang berbeda-beda (berbagai hubungan) yang dinyatakan oleh sewa.

Sewa, dalam pengertian Ricardian, adalah agrikultur patriarkal yang ditransformasikan menjnadi industri komersial, modal industrial yang diterapkan atas tanah, borjuasi kota yang dipindah-tanamkan ke pedesaan. Sewa, sebaliknya daripada “mengikat manusia pada alam,” telah hanya mengikatkan eksploitasi tanah pada persaingan. Sekali ditegakkan sebagai sewa, pemilikan atas tanah (kekayaan berupa tanah, landed property) itu sendiri adalah “hasil persaingan,” karena dari saat itu dan seerusnya ia berganbtung pada nilai pasar produk-produk agrikultura. Sebagai sewa, pemilikan atas tanah dimobilisasi dan menjadi suatu artikel/benda perdagangan. Sewa hanya mungkin dari saat ketika perkembangan industri perkotaan, dan organisasi sosial yang dihasilkan dearinya, memaksa pemilik tanah untuk semata-mata mengarah pada laba-laba tunai, pada hubungan moneter produk-produk agrikulturalnya – sesungguhnya memandang pemilikan atas tanahnya itu hanya sebagai sebuah mesin untuk mencetak uang. Sewa itu telah sedemikian lengkap menceraikan pemilik tanah dari tanah itu, dari alam, sehingga ia bahkan tidak perlu mengetahui estat-estatnya, sebagai hal itu dapat disaksikan di Inggris. Sedangkan bagi si petani, kapitalis industrial dan pekerja agrikultural, mereka tidak lebih terikat pada tanah yang mereka eksploitasi daripada pemberi-kerja dan kaum buruh di pabrik-pabrik pada katun dan wol yang mereka produksi; mereka hanya merasakan suatu keterikatan pada harga prpoduksi mereka, produk moneter itu. Dari situlah keluh-kesah partai-partai reaksioner, yang memanjatkan semua doa mereka bagi kembalinya feodalisme, bagi kehidupan patrarkal lama yang indah, bagi tata-krama sederhana dan kebajikan-kebajikan terpuji nenek-moyang kita. Penundukan tanah pada hukum/undang-undang yang mendominasi semua industri lainnya adalah dan senantiasa akan menjadi subjek ucapan-ucapan bela-sungkawa yang berkepentingan. Maka bolehlah dikatakan bahwa sewa telah menjadi kekuatan pendorong yang telah mengintroduksikan idyla (suasana indah, nikmat dan damai) ke dalam gerak sejarah.

Ricardo, setelah mendalilkan produksi borjuis sebagai keharusan untuk menentukan sewa, menerapkan konsep sewa itu, betapapun, pada kekayaan berupa tanah dari segala zaman dan semua negeri. Inilah kesalahan umum dari semua ahli ekonomi yang menggambarkan/menjelmakan hubungan produksi burjuis sebagai kategori-kategori kekal-abadi.

Dari tujuan sewa sebagai takdir/ditakdirkan – yang adalah, bagi M. Proudhon, transformasi dari kolonus menjadi “seorang pekerja yang bertanggung-jawab,” ia beralih paeaq berkat sewa yang dipersamakan/disetarakan.

Sewa, sebagaimana baru saja kita ketahui, dibentuk oleh “persamaan harga” produk-produk tanah dengan “kesuburan tidak sama/merata,” sehingga satu hektoliter gandum yang ongkosnya sepuluh franc dijual dua puluh franc jika ongkos produksinya naik menjadi dua puluh franc di atas tanah yang kualitasnya inferior/rendah.

Selama keharusan memaksa penjualan semua produk agrikultural yang dibawa ke pasar, maka harga pasar ditentukan oleh ongkos produk yang paling mahal/tinggi. Demikian, adalah penyetaraan harga ini, yang dihasilkan oleh persaingan dan bukan dari perbedaan-perbedaan kesuburan tanah-tanah itu, yang menjamin bagi pemilik tanah yang lebih baik, sewa sepuluh franc untuk setiap hektoliter yang dijual penyewanya.

Mari kita sejenak menhgandaikan bahwa harga gandum ditentukan oleh waktu-kerja yang diperlukan untuk memproduksinya, dan seketika gandum se-hektoliter yang didapatkan dari tanah yang lebih subur akan dijual dengan harga 10 Franc, sedangkan gandum sehektoliter yang didapatkan dari tanah yang kurang subur akan berharga dua puluh Franc. Dengan penerimaan hal ini, harga pasar rata-rata akan menjadi lima belas Franc, sedangkan, menurut hukum persaingan, ia harganya dua puluh Franc. Jika harga rata-rata adalah lima belas Franc, maka tidak akan ada kejadian bagi pendistribusian apapun, baik yang diratakan ataupun yang tidak, karena tidak ada yang disebut sewa itu. Sewa hanya ada jika yang satru dapat dijual untuk dua puluh Franc per hektoliter gandum yang bagi produsernya telah berongkoskan sepuluh Franc. M. Proudhon mengira kesamaan harga pasar, dengan ongkos produksi yang tidak sama, untuk sampai pada suatu keterbagian yang merata dari produk ketidaksamaan.

Kita memahami para ahli ekonomi seperti Mill, Cherbuliez, Hilditch dan lain-lainnya yang menuntut bahwa sewa mesti diserahkan pada negara untuk pelayanannya sebagai gantinya pajak-pajak. Ini ungkapan terus-terang dari kebencian sang kapitalis industrial yang didendamkannya terhadap kaum pemilik pertanahan, yang baginya seperetinya sesuatu yang tiada berguna, suatu bongkol di atas tubuh umum produksi borjuasi.

Tetapi, untuk lebih dyulu membuat harga satu hektoliter gandum itu dua puluh Franc agar kemudian membuat suatu pendistribusian umum dari sepuluh frank pungutan-lebih yang dikenakan pada para konsumer, memang cukup membuat “jenius sosial mengempuh jalan zig-zagnya dengan penuh kesedihan” – dan membenturkan kepalanya pada sesuatu pojokan tertentu.

Sewa itu menjadi, di bawah pena M. Proudhon,

“suatu penilaian tanah yang dilaksanakan secara bertentang-tentangan oleh para tuan tanah dan petani – dalam suatu kepentingan yang lebih tinggi, dan yang hasil akhirnya mestilah untuk menyamakan pemilikan atas tanah di antara para pengeksploitasi tanahg dan kaum industrialis.” [II 271]

Bagi setiap penilaian tanah berdasarkan sewa agar mempunyai nilai praktikal, maka kondisi-kondisi masyarakat sekarang tidak boleh ditinggalkan.

Nah, telah kita buktikan bahwa sewa pertanian yang dibayar oleh petani kepada tuan-tanah mencerminkan sewa yang setepat-tepatnya hanyalah di negeri-negeri yang paling maju dalam industri dan perdagangan. Dan sewa ini pun seringkali meliputi juga bunga-bunga yang dibayarkan pada tuan-tanah atas modal yang terkandung dalam tanah. Lokasi tanah, kedekatannya dengan kota-kota, dan banyak keadaan lainnya mempengaruhi sewa pertanian dan memodifikasi sewa tanah.

Di lain pihak, sewa tidak bisa menjadi indeks yang tetap dari derajat kesuburan sebidang tanah, karena setiap saat pengeterapan kimia secara modern mengubah sifat tanah itu, dan pengetahuan geologikal justru sekarang, di zaman kita ini, mulai merevolusionerkan semua perkiraan lama mengenai kesuburan relatif. Baru sekitar dua puluh tahun saja sejak bidang-bidang luas di negeri-negeri sebelah timur Inggris dibersihkan; tanah-tanah itu telah dibiarkan menganggur karena kekurangan pemahaman selayaknya mengenai hubungan antara humus dan komposisi tanah-bawah.

Demikianlah sejarah, jauh daripada mendukung –dalam bentuk sewa–suatu penilaian tanah yang sudah siap pakai, tidak melakukan apapun kecuali mengubah dan menjungkirbalikkan penilaian-penilaian tanah yang sudah dibuat.

Akhirnya, kesuburan bukanlah suatu kualitas yang sealamiah perkiraan orang; aia sangat erat bertalian dengan hubungan-hubungan sosial zamannya. Sebidang tanah mungkin saja sangat subur untuk tanaman gandum, namun harga pasar bisa saja menentukan si pembudi-dayanya (pengusaha penanam gandum itu) untuk menjadikan bidang tanah itu tanah perumputan buatan dan dengan demikian menjadikannya tidak subur.

M. Proudhon telah memperbaiki penilaian tanahnya, yang bahkan tidak memiliki nilai dari suatu penilaian tanah biasa, hanya untuk memberikan substansi/dasar pada “tujuan kesamarataan yang ditakdirkan” bagi sewa itu.

“Sewa,” demikian M. Proudhon melanjutkan, “adalah bunga yang dibayar atas modal yang tidak pernah lenyap, yaitu – tanah. Dan karena modal itu tidak bisa bertambah dalam materi, melainkan hanya memungkinkan perbaikan tidak menentu dalam kegunaannya, maka sementara bunga atau laba atas suatu pinjaman (mutuum) cenderung berkurang secara terus-menerus melalui kelimpahan modal, adalah sewa selalu cendcerung meningkat melalui penyempurnaan industri, yang darinya dihasilkan perbaikan dalam penggunaan tanah … Seperti itulah, pada hakekatnya, sewa itu.” (Vol.II, hal. 265.)

Kali ini M. Proudhon melihat pada sewa itu semua karakteristik bunga, kecuali bahwa ia diderivasi dari modal yang bersifat khusus. Modal ini adalah tanah, suatu modal abadi, “yang tidak bisa bertambah dalam materi, melainkan hanya memungkinkan perbaikan tidak menentu dalam kegunaannya.” Dalam kemajuan peradaban secara terus-menerus, bunga mempunyai kecenderungan terus-menerus untuk jatuh, sedangkan sewa terus-menerus cenderung naik. Bunga jatuh kartena berlimpahnya modal; sewa naik karena adanya perbaikan-perbaikan yang dihasilkan dalam industri, yuang menghasilkan pemanfaatan tanah yang selalu makin baik.

Demikianlah, pada hakekatnya, pendapat M. Proudhon itu.

Marilah kita lebih dulu memeriksa hingga sejauh mana benarnya pernyataan bahwa sewa adalah bunga atas modal.

Bagi pemilik tanah itu sendiri sewa itu mewakili bunga atas modal yang menjadi ‘biaya’ tanah yang dibelinya itu, atau yang akan ditariknya kalau ia menjual tanah itu. Tetapi di dalam membeli atau menjual tanah ia hanya membeli atau menjual sewa. Harga yang dibayarnya untuk menjadikan dirinya seorang penerima sewa diatur oleh tingkat bunga pada umumnya dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan sifat sesungguhnya dari sewa. Bunga atas modal yang ditanam dalam tanah pada umumnya lebih rendah daripada bunga atas modal yang ditanam dalam manufaktur atau perdagangan. Dengan demikianh, bagi mereka yang tidak membeda-bedakan antara bunga yang diwakili tanah bagi pemiliknya dan sewa itu sendiri, bunga atas modal tanah lebih berkurang daripada bunga atas modal lainnya. Tetapi masalahnya bukanlah mengenai harga beli atau harga jual sewa, bukan masalah nilai pasar dari sewa, dari sewa yang dikapitalisasi, melainkan adalah suatu masalah dari sewa itu sendiri.

Sewa pertanian dapat juga berarti, kecuali sewa itu sendiri, bunga atas modal yang terwujud dalam tanah. Dalam hal ini sang tuan-tanah menerima bagian dari sewa pertanian ini, tidak sebagai seorang tuan tanah tetapi sebagai seorang kapitalis; tetapi ini bukan sewa itu sendiri yang mesti kita persoalkan di sini.

Tanah, selama ia tidak dieksploitasi sebagai suatu alat produksi, bukanlah modal. Tanah sebagai modal dapat ditingkatkan seperti semua perkakas produksi lainnya. Tidak ada yang ditambahkan pada materinya —untuk memakai bahasa M. Proudhon—, tetapi tanah-tanah yang dipakai sebagai perkakas-perkakas produksi telah dilipat-gandakan. Kenyataan penerapan belanja-belanja modal lebih lanjut pada tanah yang sudah diubah menjadi alat-alat produksi meningkatkan tanah sebagai modal tanpa menambahkan apapun pada tanah itu sebagai materi, yaitu pada luasnya tanah itu. Tanah M. Proudhon sebagai materi adalah bumi dalam keterbatasannya. Sedang mengenai keabadian yang dijulukkkannya pada tanah, kita dengan senang-hati mengakui bahwa kebaikan ini dimilikinya sebagai materi. Tanah sebagai modal tidak lebih kekal daripada semua modal lainnya.

Emas dan perak, yang menghasilkan bunga, sama kekal dan abadinya seperti tanah. Jika harga emas dan perak jatuh, sedang harga tanah terus naik, maka ini jelas bukan karena sifatnya lebih atau kurang kekal.

Tanah sebagai modal adalah modal tetap; tetapi modal tetap menjadi habis terpakai presis sebagaimana modal berputar. Perbaikan pada tanah memerlukan reproduksi dan pemeliharaan; mereka hanya berlangsung untuk suatu masa; dan dalam hal ini mereka sama seperti semua perbaikan lainnya yang digunakan untuk mengubah materi menjadi alat-alat produksi. Apabila tanah sebagai modal itu kekal, maka sementara tanah akan menyajikan suatu penampilan yang sangat berbeda daripada yang mereka perlihatkan saat ini, dan kita akan melihat Campagna Romawi, Sisilia, Palestina dalam segala kemegahan kemakmurannya yang lalu.

Bahkan ada contoh-contoh tatkala tanah sebagai modal dapat lenyap, sekalipun perbaikan-perbaikan terus dilaksanakan di tanah tersebut.

Pertama-tama, ini setiap kali terjadi manakala sewa itu sendiri dihapus oleh persaingan tanah-tanah baru dan yang lebih subur; kedua, perbaikan-perbaikan yang mungkin bernilai pada suatu waktu tertentu telah tidak bernilai lagi pada saat mereka menjadi universal dikarenakan perkembangan agronomi.

Wakil tanah sebagai modal bukanlah tuan-tanah, melainkan adalah sang perusaha pertanian. Pendapatan yang dihasilkan oleh tanah sebagai modal adalah bunga dan laba industrial, bukan sewa. Masa ada tanah-tanah yang menghasilkan bunga dan laba seperti itu, tetapi tetap tidak menghasilkan sewa.

Singkatnya, tanah sejauh ia menghasilkan bunga, adalah modal tanah, dan sebagai modal tanah ia tidak menghasilkan sewa, ia bukanlah pemilikan tanah. Sewa dihasilkan dari hubungan-hubungan sosial dimana eksploitasi atas tanah berlangsung. Ia tidak bisa merupakan hasil dari sifat tanah yang kurang atau lebih solid, kurang atau lebih tahan lama.. Sewa adalah suatu produk dari masyarakat dan bukan dari tanah.

Menurut M. Proudhon, “perbaikan dalam pengunaan tanah” –suatu konsekuensi dari “penyempurnaan industri” – menyebabkan terusmenerus naiknya sewa. Sebaliknya, perbaikan ini menyebabkan kejatuhannya secara periodik.

Terdiri atas apa saja, pada umumnya, setiap perbaikan, baik itu di dalam habis terpakai presis sebagaimana modal berputar. Perbaikan pada tanah memerlukan reproduksi dan pemeliharaan; mereka yanya berlangsung untruk suatu masda; dan dalam hal ini mereka sama seperti semua perbaikan lainnya yang digunakan untuk mengubah materi menjadi alat-alat produksi. Apabila tanah sebagai mnodal itu kekal, maka sementara tanah akan menyajikan suatu penampilan yang sangat berbeda daripada yang mereka perlihatkan saat ini, dan kita akan melihat Campagna Romawi, Sisilia, Palestina dalam segala kemegahan kemakmurannya yang lalu.

Bahkan ada contoh-contoh tatkala tanah sebagai modal dapat lenyap, sekalipun perbaikan-perbaikan terus dilaksanakan di tanah tersebut.

Pertama-tama, ini setiap kali terjadi manakala sewa itu sendiri dihapus oleh persaingan tanah-tanah baru dan yang lebih subur; kedua, perbaikan-perbaikan yang mungkin bernilai pada suatu waktu tertentu telah tidak bernilai lagi pada saat mereka menjadi universal dikarenakan perkembangan agronomi.

Wakil tanah sebagai modal bukanlah tuan-tanah, melainkan adalah sang perusaha pertanian. Pendapatan yang dihasilkan oleh tanah sebagai modal adalah bunga dan laba industrial, bukan sewa. Masa ada tanah-tanah yang menghasilkan bunga dan laba seperti itu, tetapi tetap tidak menghasilkan sewa.

Singkatnya, tanah sejauh ia menghasilkan bunga, adalah modal tanah, dan sebagai modal tanah ia tidak menghasilkan sewa, ia bukanlah pemilikan tanah. Sewa dihasilkan dari hubungan-hubungan sosial dimana eksploitasi atas tanah berlangsung. Ia tidak bisa merupakan hasil dari sifat tanah yang kurang atau lebih solid, kurang atau lebih tahan lama.. Sewa adalah suatu produk dari masyarakat dan bukan dari tanah.

Menurut M. Proudhon, “perbaikan dalam pengunaan tanah” –suatu konsekuensi dari “penyempurnaan industri” – menyebabkan terus menerus naiknya sewa. Sebaliknya, perbaikan ini menyebabkan kejatuhannya secara periodik.

Terdiri atas apa saja, pada umumnya, setiap perbaikan, baik itu di dalam agrikultur atau dalam manufaktur? Dalam memproduksi lebih banyak dengan kerja yang sama; dalam memproduksi sama banyaknya, atau bahkan lebih banyak, dengan kerja lebih sedikit. Berkat perbaikan-perbaikan ini, petani tidak perlu menggunakan jumlah kerja lebih besar untuk suatu produk yang relatif lebih kecil. Karenanya itu tidak perlu beralih pada tanah-tanah yang lebih rendah kualitasnya, dan ‘cicilan-cicilan’ modal yang diterapkan secara berturut-turut pada tanah yang sama tetap sama produktifnya.

Demikianlah, perbaikan-perbaikan ini, jauh daripada terus-menerus menaikkan sewa seperti dikatakan M. Proudhon, sebaliknya menjadi sekian banyak perintang sementara yang mencegah kenaikan itu.

Para pemilik-tanah Inggris abad ke XVII telah sangat menyadari kebenaran ini, sehingga mereka menentang kemajuan agrikultura karena ketakutannya akan melihat pendapatan-pendapatan mereka berkurang. (Lihat Petty, seorang ahli ekonomi Inggris pada zaman Charles II.[47]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s