Perlawanan Tersembunyi Buruh

Sosiologi Perkebunan PETANI MELAWAN NEGARA (Resensi tentang kajian: Gerakan Petani melawan hegemoni Negara) Oleh: Hardiansyah DEPARTEMENT SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008 ABSTRAKSI Sepanjang sejarah bangsa konflik pertanahan memang selalu menyuarakan di negeri agraris ini. Dari rekaman berbagai kasus sengketa tanah yang pernah ada, dari zaman pemerintah colonial hindia belanda hingga rezim orde baru, mulai kasus di jawa Cilegon , Banten hingga kasus Kalibakar malang selatan selalu saja di hadapkan petani dengan penguasa. Dalam posisi seperti ini sudah barang tentu reistensi petani tidak dapat terelekan, konflik ini dalam catatan Okhhokam sejak pemberontakan di ponegoro tidak terelakkan. Hingga pertama pergolakan nasional hingga pasca ode baru. Resistensi petani merupakan suatu reaksi defensive akibat tidak terjaminnya kehidupan patani. Dengan tidak terjaminnya kehidupan petani, maka resistensi tersebut di pakai sebagai survival stategy, dalam menghadapi ketidak pastian. Prilaku ini bukan saja menunjukkan tindakan pengingkaran petani terhadap pemegang kebijakan yaitu Negara, tetapi juga merupakan aksi yang berprinsip dahulukan selamat, di tengah tidak terjaminnya kehidupan mereka jika terus mengamini kebijakan Negara yang hegemonic dan tidak pernah memikiran petani kecil. Manifestasi ketidak puasan terhadap berbagai kebijakan Negara itulah yang resistensi ribuan petani Simojayan dan Tirtoyudodi ngarai Gunung simeru, malang selatan. Mereka menggarap resistensi (melalui reclaiming tanah PTN XII) tersebut sebagai satu-satunya aksi politik yang tepat, efektif konkrit yang dimiliki bergaining position bagi perbaikan ekonomi dan penghidupan mereka di kemudian hari, terlebih secara histories mereka mempunyai hak terhadap Eks perkebunan belanda tersebut, yang di berikan kepada ayah atau buyut mereka sebagai upah jerih payah mengurus dan menampung tentara pejuang kemerdekaan. Jauh sebelum aksi reclaiming itu terjadi, sebenarnya para petani telah berupaya unutk mendapatkan tanah merekan melalui prosedur an mekanisme hukum yang berlaku, namun karena akses untuk itu buntu dan di temukan kejanggalan dalam proses penerbitan hak guna tanah (HGU) PTPN XII kali bakar atas tanah tersebut barbau politik kekuasaan, maka mereka membabat lahan perkebunan tersebut. Aksi mereka berhasil walaupun tidak di sertifikasi oleh pihak pemerintah tentang tanah yang telah mereka huni dari beberapa tahun hingga sekarang. Apa yang terjadi dari gejolak resisitensi yang di lakukan para patani Simojayan dan Tirtomulyo adakah masalah pemilikan tanah. Secara ekonomi factor inilah yang merangsang resistensi mereka, karena akan menentukan kesejahtraan mereka nantinya. Namun, di balik iu secara politis resistensi tersebut muncul karena ingin menolak kebijakan negara dalam masalah agraria yang cenderung eksploitatif dan menganak emaskan kaum feodal dan kaum kpitalis. Kesan itulah ysng semakin kental mewarnai setiap resistensi petani dari masa ke masa. Ironis memang tetapi itulah realitas yang selalu di suguhkan oleh negeri yang bercorak agraris ini. Apa yang terjadi dari gejolak resisitensi yang di lakukan para patani Simojayan dan Tirtomulyo adakah masalah pemilikan tanah. Secara ekonomi factor inilah yang merangsang resistensi mereka, karena akan menentukan kesejahtraan mereka nantinya. Namun, di balik iu secara politis resistensi tersebut muncul karena ingin menolak kebijakan negara dalam masalah agraria yang cenderung eksploitatif dan menganak emaskan kaum feodal dan kaum kpitalis. Kesan itulah ysng semakin kental mewarnai setiap resistensi petani dari masa ke masa. Ironis memang tetapi itulah realitas yang selalu di suguhkan oleh negeri yang bercorak agraris ini. Pokok permasalahan Maka demikian yang harus di perhaikan adalah bagaimana kondisi para petani atau pekerja kebun khususnya mengenai cara mereka dalam menghadapi segala ketimpangan yang di timbulkan oleh persoalan social. Pada kasus di kalibakar yang paling urgen adalah gerakan petani dalam memaksimalkan tuntutan yang ingin di capai terkait hak-hak para pekerja dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan demikian yang akan di ambil menjadi pokok permasalahan adalah: 1. teori apa saja yang relevan di gunakan dalam kasus di atas 2. bagai mana konflik yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat terkait reclaiming tanah. 3. bagaimana penderitaan yang di alami oleh para buruh yang bekerja pada perkebunan yang telah di ambil oleh pemerintah. I.1 Produk Surplus Sosial Selama produktivitas kerja tetap pada tingkat dimana satu orang hanya dapat menghasilkan cukup untuk kebutuhan hidupnya sendiri, pembagian sosial tidak terjadi dan diferensiasi sosial apapun didalam masyarakat adalah tidak mungkin. Dibawah kondisi tersebut, semua orang adalah produsen dan mereka semua ada pada tingkat ekonomi yang sama. Setiap peningkatan dalam produktivitas kerja melewati titik rendah tersebut membuat surplus kecil menjadi mungkin, dan seketika terdapat surplus produk, seketika dua tangan manusia dapat memproduksi lebih dari yang dia butuhkan untuk kebutuhan hidupnya sendiri, kemudian kondisi telah dibentuk untuk sebuah perjuangan bagaimana surplus tersebut akan dibagikan. Sejak saat ini, pengeluarkan total kelompok sosial tidak lagi terdiri hanya dari kerja kebutuhan untuk keberlangsungan hidup produsennya. Beberapa dari hasil kerja tersebut sekarang dapat digunakan untuk melepaskan sebuah seksi masyarakat dari kewajiban untuk berkerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri. Kapan saja situasi tersebut muncul, sebuah seksi masyarakat dapat menjadi klas berkuasa, yang karakteristik luar biasanya adalah emansipasinya dari kebutuhan untuk bekerja demi keberlangsungan hidupnya sendiri. Sejak saat itu, kerja produsen dapat dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dari kerja tersebut terus digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup si produsen itu sendiri dan kita menyebut bagian ini sebagai kerja kebutuhan, bagian yang lainnya digunakan untuk menjaga klas berkuasa dan kita memberikannya nama surplus kerja.Mari kita mengilustrasikan hal tersebut dengan contoh yang sangat jelas dalam perbudakan perkebunan, seperti yang terjadi di daerah-daerah tertentu dan periode Kekaisaran Romawi, atau seperti yang kita temukan di Barat India dan pulau Afrika Portugis dimulai pada abad keenembelas, dalam perkebunan sangat luas yang didirikan disana. Di area tropis tersebut, bahkan makanan budak secara umum tidak disediakan oleh tuannya, para budak harus menghasilkannya sendiri dengan bekerja pada sebidang kecil tanah pada hari minggu dan produk dari kerja tersebut membangun simpanan makanan dia. Selama enam hari dalam seminggu para budak bekerja di perkebunan dan tidak menerima apapun dari produk kerja dia. Hal tersebut adalah kerja yang menciptakan produk surplus sosial, diserahkan oleh para budak seketika dihasilkan dan menjadi milik tunggal pemilik budak Kerja seminggu, yang dalam kasus ini adalah tujuh hari, dapat dibagi menjadi dua bagian: kerja satu hari, Minggu, yang menyusun kerja kebutuhan, kerja tersebut yang menyediakan produk untuk kebutuhan hidup para budak dan keluarganya; kerja enam hari yang lain adalah kerja surplus dan semua produknya menjadi kepunyaan pemilik budak, digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya dan juga memperkaya dirinya sendiri. Wilayah besar dari awal Abad Pertengahan memberikan kita gambaran yang lainnya. Tanah di wilayah tersebut dibagi menjadi tiga bagian: tanah komunal terdiri dari hutan, padang rumput, rawa-rawa, dsb; tanah yang dikerjakan oleh petani hamba untuk kebutuhan hidupnya sendiri dan keluarganya; dan terakhir, tanah yang dikerjakan oleh petani hamba dalam rangka untuk menopang tuan feodal. Kerja seminggu selama periode tersebut biasanya enam hari, bukan tujuh. Kerja seminggu tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama: petani hamba bekerja tiga hari di tanah dimana hasilnya menjadi milik dia; tiga hari yang lainnya dia bekerja di tanah tuan feodal, tanpa bayaran, memberikan kerja gratis bagi klas berkuasa. Produk dari setiap tipe kerja yang sangat berbeda dapat didefinisikan dalam dua ungkapan yang berbeda. Ketika produsen melakukan kerja kebutuhan, dia menghasilkan produk kebutuhan. Ketika dia melakukan kerja surplus, dia menghasilkan produk surplus sosial.Demikian, produk surplus sosial adalah bagian dari produksi sosial yang dihasilkan oleh klas yang bekerja tetapi diambil oleh klas berkuasa, terlepas dari bentuk yang diambil oleh produk surplus sosial, entah hal tersebut produk alami, atau komoditi untuk dijual, atau uang. Nilai lebih sederhananya adalah bentuk moneter dari produk surplus sosial. Ketika klas berkuasa mengambil bagian produksi masyarakat yang sebelumnya disebut sebagai “produk surplus” secara eksklusif dalam bentuk moneter, kemudian kita menggunakan istilan “nilai lebih” ketimbang “produk surplus” Seperti yang akan kita lihat nanti, bagaimanapun, hal tersebut diatas hanya menyusun pendekatan awal bagi definisi nilai lebih.Bagaimana produk surplus sosial menjadi ada? Hal tersebut muncul sebagai konsekwensi dari sebuah pengambilalihan gratis, hal tersebut adalah, sebuah pengambil alihan tanpa kompensasi, oleh klas berkuasa dari bagian produksi klas yang berproduksi. Ketika para budak bekerja enam hari seminggu di perkebunan dan produk total kerjanya diambil oleh pemilik budak tanpa kompensasi apapun bagi para budak, asal usul produk surplus sosial disini adalah kerja gratis, kerja tanpa bayaran, yang disediakan oleh para budak bagi pemilik budak. Ketika petani hamba bekerja tiga hari seminggu di tanah milik tuan tanah, asal usul dari pemasukan tersebut, dari produk surplus sosial, juga dapat ditemukan dalam kerja tanpa bayaran, kerja gratis, dihasilkan oleh petani hamba. Kita akan melihat lebih jauh dalam asal usul nilai lebih kapitalis, itu untuk mengatakan, pendapatan klas borjuasi dalam masyarakat kapitalis, adalah hal yang sama: hal tersebut adalah kerja tanpa bayaran, kerja gratis, dimana proletar, pekerja upahan, memberi para kapitalis tanpa menerima nilai apapun sebagai pertukaran. GERAKAN SOSIAL PETANI PERSPEKTIF TEORITIK Perspekif kajian moral petani yang di pelopori oleh James Scott (1989) dan Wolf (1969) scott memandang , model gerakan perlawanan kaum petani sebagai perlawanan “gaya asia”. Model ini merupakan sebuah gaya petani miskin yang lemah dengan organisasi yang anonym, bersifat nonformal dengan keorganisasian asal sama tahu saja. Perlawanan kecil-kecilan dan secara sembunyi yang di lakukan setiap hari dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian, mencuri barang yang kecil-kecil memperlambat kerjaan banyak hal lainnya yang di lakukan oleh kaum petani dalam rangka membuat perlawanan secara latin. Gaya petani yang di buat oleh Scott melalui petani miskin di Sekada Malaysia, saat berhadapan dengan perubahan serta efek marjinalisasi yang menimpa mereka dengan karya monumental yang bejudul “Weapon of the weak, every day form of peasant resistens”(yale University, 1985). Meluasnya peran Negara dalam proses transformai pedesaan menyebabkan • Perubahan hubungnan antara petani kaya dan petani miskin, di mana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk, hal ini memaksa petani lemah untuk melawan petani kaya maupun Negara. • Munculnya realitas petani miskin yang melakukan perlawanan dalam brbagai bentuk yang merupakan pembelotan cultural. • Terbangunya senjata perlawaan terhadap kaum kaya maupun negara GERAKAN SOSIAL PETANI PERSPEKTIF TEORITIK Perspekif kajian moral petani yang di pelopori oleh James Scott (1989) dan Wolf (1969) scott memandang , model gerakan perlawanan kaum petani sebagai perlawanan “gaya asia”. Model ini merupakan sebuah gaya petani miskin yang lemah dengan organisasi yang anonym, bersifat nonformal dengan keorganisasian asal sama tahu saja. Perlawanan kecil-kecilan dan secara sembunyi yang di lakukan setiap hari dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian, mencuri barang yang kecil-kecil memperlambat kerjaan banyak hal lainnya yang di lakukan oleh kaum petani dalam rangka membuat perlawanan secara latin. Gaya petani yang di buat oleh Scott melalui petani miskin di Sekada Malaysia, saat berhadapan dengan perubahan serta efek marjinalisasi yang menimpa mereka dengan karya monumental yang bejudul “Weapon of the weak, every day form of peasant resistens”(yale University, 1985). Meluasnya peran Negara dalam proses transformai pedesaan menyebabkan • Perubahan hubungnan antara petani kaya dan petani miskin, di mana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk, hal ini memaksa petani lemah untuk melawan petani kaya maupun Negara. • Munculnya realitas petani miskin yang melakukan perlawanan dalam brbagai bentuk yang merupakan pembelotan cultural. • Terbangunya senjata perlawaan terhadap kaum kaya maupun negara Dalam karya ini di katakan bentuk perlawanan petani yang lemah karena tidak banyak memerlukan koordinasi atau perencanaan. Bahkan usaha untuk menolong diri sendiri secara tipikal menghindari setiap konfrontasi dengan penguasa atau norma-norma elit. Scoot menjelaskan antara perbedaan perlawanan sungguh-sungguh dengan perlawanan yang bersifat insidential. Dalam hal ini terdapat liam teknik yang acap di gunakan petani dalam meminimalisir kerugian yang di lainnya: 1. Petani tidak menggunakan organisasi formal 2. Merlakukan perlawanan secara diam-diam 3. Patani mempertahankan perlawanan mereka dalam skala kecil 4. Petani menghadapi suatu konspirasi diam 5. Petani melakukan perlawanan dengan menjalankan aktifitas ecara sembunyi-sembunyi. Dalam buku lainnya yang berjudul”moral ekonomi petani” Scott menjelaskan bahwa petani menganut gaya hidup kolektif. Hal ini di sebabkan karena struktur kehidupan yang terjepit yang harus menyelamatkan diri. Selain itu juga petani menganut azas pemerataan, dengan pengertian membagi secara sama rata mereka akan membagikan hal-hal yang di butuhkan oleh petani lain karena merekan percaya kapada hak moral petani untuk dapat hidup secara cukup. Oleh karea itu di terapkan sistem bagi hasil agar petani kaya dapat membagikan rezeki kepada komunitas desa. Sementara itu komersialisasi yang intensif di anggap sebagai ancaman bagi petani desa. Konsep lain yang di gunakan Scott dalam moral eknomi petani adalah konsep kepemimpinan, struktur social dan relasi social ekonomi yang terdapat pada masyarakat pra kapitalis. Struktur sosial pada masyarakat ini di tandai dengan adanya strukutr masyarakat secara horizontal di tandai oleh homogenitas yan tinggi dan secara vertikal di tandai dengan struktur yang bersifat kerucut. Dalam hal kerucut struktur yang paling tinggi di pegang oleh kelomok desa yang berjumlah relative kecil di bandingkan dengan struktur bawah yang mendominasi. Dengan demikian perlawanan petani di dasarkan atas perlawanan petani semata di landasi oleh moralitas traditional yang berorientasi pada masa lalu dan masa kini saja sehingga ketika terjadi perubahan yang tidak sesuai dan di rasakan mengancam kelangsungan hidup yang telah mereka miliki, para petani kemudian melakukan perlawanan terbuka. TORI RASIONALITAS PETANI Toeri rasionalitas berasumsi bahwa setiap manusia pada hakikatnya adalah rasional dengan selalu mempertimbangkan prisip efisien dan efektifitas dalam melakukan setiap tindakan. Dengan tetap mengakui adanya determinat factor seperti solidaritas masyarakat petani yang kuat, subsistensi perekonomian petani serta adanya hubungan produksi masyarakat pra kapitali, namun pengaruh rasionlitas selalu dlam konteks beroperasinya mekanisme keuntungan rasional individu dengan anggota komunitas. Alfred Marshall (1848- 1924) menyatakan bahwa manusia selalu cendrung memaksimalkan rasionalnya, selalu berusaha menghitung nilai sesuatu (utility) yang hendak dipertukarkan (Waters, 1994). Menurut Pareto ada dua bentuk utility yaitu, economic utility dan moral utility. Keduanya, kata Waters dalam aktivitasnya acap di kaitkan dengan utilitas. Sikap petani ini menurut Scott (1976), karena para petamni lebih mengedapankan sikap komunalisme dengan mengedepankan nilai-nilai terhadap pemerataan sumber-sumber yang kian terbatas sikap ini tak lain adalah bersal dari respo dari intervensi teknologi, komersialisasi dan dan rasionalisasi pertanian yang semakin din rasakan terjepit ruang gerak mkehidupan mereka. Praktek-praktek system bagi hasil, keselamatan dan kepedulian orang kaya desa kepada yang miskin adalah dasar moralitas komunitas yang harus di lakukan untuk kelangsungan hidup bersama. Terkait dengan itu mucullah konsep moral komunitas yang di kenal dengan prinsip dahulukan selamat. Karena hubungan petani di bangun berdasarkan hubngan moral sehingga melahirkan moral ekonomi yang lebih mengutamakan dahulukan selamat dan jauhkan garis bahaya. Moralitas yang mendahulukan selamt ini yang di jadikan factor kunci yang di jadikan moral ekonomi dalam menjelaskan gerakan erlawanan petani. Masih banyak teori-teori social maupun ekonomi lainnya yang yang relevan dan dapat di unakan dalam pendekatan study perkebunan. Maka akan lebih efektif kita akan langsung melihat kasus yang muncul khusunya di ndaerah sekitar Kalibakar khussnya berkaitan dengan konflik agraria. KONFLIK AGRARIA DI KALIBAKAR Gerakan reklaiminig oleh petani malang selatan atas tanh perkebunan yang di kuasai PTPN XII bukanlah gerakn yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebuah akumulasi dari sebuah proses panjang dan serentetan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya. Masuknya belanda ke malang selatan sekitar abad ke-19 dan kemudian mendirikan perkebunan kalibakar, kemudian di gantikan dengan Jepang pada tahun 1942, kemudian agresi belanda yang pertama dank ke-2 kembalinya belanda menguruskan hak erfphacyang kurang 5 tahun hingga kemerdekaan sampai kekuasaan rezim orde baru, telah mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat di malang selatan. Hubungan antra rakyat petani dan PTPN XII sudah terlihat kurang harmonis sejak pemerintah menguasai tanah rakyat pada tahun 1955 bahkan sejak tahun 1950 akyat sudah sangat kecewaketika belanda meminta lagi tanah yang sudah di garap petani atas dasar hak sewanyamasih kurang 5 tahun. Atas bantuan pejabat local terutama kepala desa yang menjanjikan tanah akan di kembalikan kepada rakyat setelah lima tahun. Terpaksa rakyat memberikan tanah yang sudah di garapnya kepada belanda yang hamper 5 tahun akan mendapatkan tanahnya kembali. Namun liam tahun kemudian setelah para petani sudah menayakan beberapa kali tentang tanahnya kepada pemerintah dan DPRS, mereka tetap tidak memperoleh jawaban yang jelas, ada indikasi kuat semua institusi yang di datangi rakyat sudah lepas tanggung jawab. Dan ketika petani telah berjuang unutk mendapatkan kembali tanahnya, tiba-tiba ada pengumuman dari pemerintah bahwa tan Eks belanda tersebut telah di kuasai oleh perusahaan perkebunan Negara (PPN). Para petani sangat marah karena telah merasa telah di bohongi oleh pemerintah, tetapi mereka tetap berani memperotesnya. Sebagian besar penduduk desa tirtomulyo, sebelum mempunyai tanh reformasi ( sebutan untuk tanah reclaiming), bamyak yang bergantung dari pekerjaan yang bergerak di sector pertanian. Jika ada lahan selain jumlahnya yang sngat terbatas juga tidak dapat di tanami tanaman pangan seperti jagung, ketela pohon, apalagi padi. Lahan yang ada di sekitar rumah hanya bias di tanami kopi, yang berproduksi setahun sekali atau dua kali, dan tidak dapat di andalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kelangkaan dan kesempatan kerja warga desa tidak hanya di perparah dengan peningkatan jumlah kelahiran jumlah kelahiran tetapi juga karena adanya pendatang dari luar desa. Melihat kecenderungan pertambhan penduduk yang cukup tinggi, orang-orang setempat menyebutnya kondisi desa saat ini talah berubah dari desa dalam kebun menjadi kebun dalam desa. Memang krisis ekonomi yang melanda Indonesia pertengahan tahun 1997 semakin memperburuk keadaan. Jumlah pendudu miskin yang sebelumnya telah berhasil ditekan sekitar 22,5 juta (11 persen), pada puncak tahun 1998 menurut badan pusat statisik (BPS) telah menjadi sekitar 39,4 juta (24 persen). Angka tersebut masih terus bertambah menjadi sekitar 50 juta orang, jika ditambah dengan kelompo masyarakat tepat berada dia atas garis kemiskinan, yang rawan jatuh ke kelompok miskin (kompas, 8 november 2001). Data-data empiris jelas menunjukkan bahawa mayoritas rumah tangga di Indonesia hidup dari sektor pertanian. Sementara mayoritas para petani kita itu hidupnya selalu berutang karna penerimaan atas kegiatan produksi mereka selalu defisit. Yang paling sial adalah tanah sebagai modal mereka tetap menyusut pelan-pelan melalui proses penggadaian atau angguna kedapa pemberi kredit informal. Modal itu tetap menyusut melalai proses penyewaan, penggadaian dan akhirnya penjualan. Proses kemiskinan ekonomi rumah tangga pertanian yang di mulai dengan berutang, menyewakan, menggadaiakn dan akhirnya menjual tanah itu terus berlangsung di dalam system agrarian kita. Dengan proses ekonomi sepeerti itu, para petani selain yang banyak mengalami mobilitas prosesi secara horizontal dari petani menjadi buruh industri atau pekerja sektor informal, juga ada yang lebih terdahulu mengalami penurunan mobilitas secara vertikal, yakni dari petani pemilik lahan kecil menjadi buruh tani, baru melakukan mobilitas horizontal lintas profesi. EKSPLOITASI DAN PERLAKUAN KASAR TERHADAP BURUH PERKEBUNAN Berdasarkan ceerita para orang tua, bekerja di perkebunan justru lebih enak zaman Belanda dari pada sekarang, terutama dalam hall upah, kesejahteraan dan perhatian perkebunan terhadap buruh tetapi, ketika perkebunan dikelola oleh Indonesia sendiri, sama-sama jawa lagi, malah tetangga ssendiri, perlakuan mereka justru lebih kejam dan tidak manusiawi. Hubungan antara pihak perkebunan, terutama para mandor dan sinder, dengan penduduk disekitar perkebunan berlangsung kurang harmonis, terkesan tegang dan cenderung saling curiga. Banyak warga setempat yang menilai kalau sikap dan gaya orang kebuncenderung melebihi zaman colonial belanda. Belanda saja masih ada perasaan agak mau mengerti dan menghormati orang, tetapi para sinder kebun sekarang lebih kejam dan sadis, kata salah seorang penduduk yang terpaksa keluar dari karyawan perkebunandan lebih memilih menjadi tukang becak di turen. Dominasi barat yang di bawa oleh kalangan swasta di berbagai perkebunan telah menyebabkan goyahnya tatanan masyarakat traditional beserta nilai-nilai tradisinya. Kondisi demikian menjadi sumber bagi mnculnya gerakan social. Gerakan social merupakan ledakan ketegangan pertentangn dan permusuhan dalam masyarakat. Sebagai aktivitas kolektif gerakan social bertujuan untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang di cita-cita kan dalam menolak suatu perubahan yang sering di lakukan dengan jalan radikal. Termasuk pembangkangan adalah penipuan, pemalsuan kebodohan yang di buat-buat pembelotan, pencurian kecil-kecilan, penyarangan, pelanggaran, pembakaran rumah dengan sengaja, penyeludupan dan pembunuhan secara diam-diam. Tindakan ini di lakukan secara alternative untuk menetang secara terang-terangan dan terlalu riskan unutk melakukan tantangan terbuka. Selama abad ke 18 dan 19, hamper tiap tahun terjadi pemberontakan petani di jawa terhadap pemerintah colonial belanda. Di lihat dari latar belakang social ekonomi dan politik ketika itu, peran para santri dan kiai dari pondok pesantren sangat besar. Jaringa terikat antar pesantren dan konsep pimpinan sebagai ratu adil telah mampu menggerakkan pemberontakan petani, unutk menuntut hak-hak mereka karena telah di belotkan oleh kompeni. Namun gerakan dari pemberontakan petani tersebut masih bersifat local, dan dalam jangka waktu hanya berkisar antara satu sampai dua minggu. JAM KERJA DAN BESAR UPAH BURUH PERKEBUNAN Pihak perkebunan telah menetukan jam kerja dari para buruh, yakni di mulai dari jam 07:00 sampai jam 14:00 WIB. Tetapi pada praktiknya para sinder menambahkan jam kerja di luar ketentuannya. Misalnya para sinder sering memerintahkan para buruh unutk dating lebih awal dan pulang nya sampai sore hari. Para sinder perkebunan umumnya bertindak sangat semena-mena dalam memperlakukan buruh. Sikap otoriter para sinder tidak hanya terlihat dalam menetukan tambhan jam yang lebih panjang, tetapi dalam hal lain seperti mewajibkan buruh untuk membawa berbagai jenis tanaman seperti mangga, avokat, pisang untuk di tanami di antra bagian-bagian tanah kosong di perkebunan. Eksploitasi terhadap buruh tidak hanya dalamjam kerja yang lebih panjang, tetap juga dari upah kerja yang sangat kecil. Perlakuan para mandor dan staf PTPN terhadap para karyawan dan terutama terhadap buruh di lihat masyarakat sangat kejam dan keterlaluan, melebihi zaman belanda. Mulai staf direksi, adminstrasi sampai sinder atau mandor sama saja sikapnya yang sombong, angkuh, sok berkuasa dan memperlakukan seenaknya kepada buruh. Berbgai sikap perlakuan yang di lakukan oleh pihak perkebunan terhadap buruh, sebagian memang merupakan warga desa local, pelan tetapi pasti menjadi sumber kejengkelan, kemarahan dan akhirnya menjadi sumber pemicu terjadi pembabatan tanah perkebunan milik PTPN XII. Masuknya kekuasaan kekuasaan modal yan di bawa perkebunan ke dalam masyarakat petani pedesaan telah menghancurkan tatanan masyarakat petani yang dapat di katakana prakapitalis. Kritik terhadap argumentasi Mazhab Ricardian berpusat pada di abaikannya watak dari modal yang dapat merusak susunan masyarakat lama dan membangun masyarakat baru. Merumuskan kembali inti pemikiran Karl Marx dalam bukunya capital dan Kautski dalam bukunya the agrarian question menyuarakan apakah modal, dan dengan cara bagaimana modal tersebut, mengambil alih pertanian, mengubahnya secara mendasar, menghancurkan bentuk-bentu lain dari produksi dan kemiskinannya maka kemudian membentuk bentuk baru. Aksi reclaiming petani malang atas tanah yang di kuasai PTPN XII sesubgguhnya terjadi dalam konteks porblematika dualisme hokum (legal gaps) yang dalam prosesnya menyebabkan cultural konflik. Dalam resensi ini dikatakan bahwa konflik antra rakyat dan petani PTPN XII yang di dukung Negara yang bersumber pada persoalan konsep tentang hak kepemilikan dan penguasaan tas hak tanah dengan justifikasi Claim yang di dasarkan pada dsar logika hukumnya sendiri-sendiri, Hukum Negara yang positifistik, legal formal, procedural dan hokum rakyat yang local dan non formal. Klaim rakyat petani atas tanah di dasarkan pada logika kesejarahan. Sebaliknya, Negara dengan logika formalnya di katakantnah eks PTPN XII otomatis menjadi milik Negara. Dengan logika formalnya, pemerintah menggugurkan claim kepemilikan tanah milik petani deengan bukti tertulis, sebuh alat bukti yang tidak pernah di kenal, atau paling tidak kurang di perhatikan oleh petani, sementara bagi petani bukti pemilikan anah cukup dengan pengakuan social, yakni di ketahui dan di akui oleh warga sekitarnya. Hal ini di pandan oleh petani lebih penting dari pada bukti-bukti tertulis dari kertas yang berstempel. DAMPAK SOSIAL- EKONOMI REKLAIMING Secara de facto tanah eks PTPN XII sudah di kuasai petani dan secara ekomomi kehidupan social ekonomi petani peserta reclaiming menjadi lebih baik, namun peningkatan penghasilan ini tidak di barengi dengan peningkatan kemandiriannya petani. Hal ini terjadi sebagai penigkatan konsumerisme petani yang cukup tinggi. Tingginya tinggkat konsumerisme sebagai euphoria keberhasilan reclaiming dan ironisnya hal itu juga di pahami sebagai symbol peningkatan kesejahtraan petani telah menyebabkan petani terjebak utang atau kredit. Suatu kondiri yang dapat berakibat dari proses penghanciran diri . Dengan demikian problematika penguatan eksistensi petani tidak hanya datang dari luar komunitas petani, melainkan juga datang dari dalam petani sendiri. Jika demikian hasil reclaiming dapat membahayakan substansi tujuan yang di lakukan reclaiming agar tujuan social dan ekonomi petani mengalami penigkatan yang berarti, bias memandirikan dan memantapkan eksistensi sebagai petani sehingga tidak sampai terjadi mobilitas social vertikal akibat bias kota. Keberhasilan petani dalam banyak hal telah membawa sejumlah perbaikan ekonomi namun di sisi lain ia juga telah membawa sejumlah persoalan social baru di samping ketidak pastian penguasaannya terhadap tanah. Misalnya muncul gerakan social antar warga ketegangan hubungan social antara peserta reclaiming dan yang tidak ikut, terungkitlah kembsli masalah politik lama antara eks PKI yang telah ikut reclaiming dan yang tidak ikut.endapan pengalaman traumatis politik masa lalu sebagai beban sejarah telah menambah persoalan kehidupn masyarakat petani sehingga petani kembali bernasib sial menumpuk dan tidak prospektif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s